> VILLA MERAH JAKARTA: DESAIN PRODUK ITB

Sabtu, 07 Juli 2012

DESAIN PRODUK ITB




1. Sejarah
Pada tahun 1972, pendidikan tinggi Desain Produk mulai dirintis di ITB, melalui pendirian Studio Desain Produk. Merupakan pendidikan tinggi Desain Produk pertama di Indonesia.
Pada tahun 1996, Studio Desain Produk – ITB, mendaftarkan diri dan diterima menjadi anggota ICSID (International Council of Society of Industrial Design). Pada tahun yang sama, Imam Buchori Zainuddin, salah seorang dosen di Studio Desain Produk, diangkat menjadi Guru Besar untuk bidang Desain Produk di ITB.
Pada tahun 1998, Studio Desain Produk yang semula hanya setingkat dengan jalur minat, kemudian ditingkatkan statusnya menjadi Program Studi Desain Produk (PSDP), yang diikuti pula dengan langkah-langkah pembaharuan pada kurikulum pendidikannya yang mengacu kepada upaya untuk menghadapi berbagai perubahan dan tantangan di masa depan.
Pada tahun 1999, PSDP secara aktif terlibat dalam penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Desain Industri, yang kemudian disahkan oleh DPR-RI menjadi Undang-Undang No.51 Tahun 2000 tentang Desain Industri. Pada tahun 2004 berdasarkan ketetapan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Program Studi Desain Produk (Strata 1/Sarjana) – Fakultas Seni Rupa dan Desain, ITB, mendapat Akreditasi A.
2. Bidang Keilmuan/Keahlian
Desain Produk (Industrial Design) adalah bidang ilmu/keahlian dalam perencanaan dan perancangan benda pakai/fungsional untuk memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan produk benda bagi kebutuhan manusia, yang bertolak dari kenyamanan manusia sebagai pengguna dan perkembangan prinsip-prinsip industri yang melingkupinya.
Kenyamanan manusia mencakup: kenyamanan inderawi (sensing conformity); kenyamanan fisik (ergonomics), dan; kenyamanan nilai dan makna produk (productsemantics). Sedangkan Prinsip-prinsip industri meliputi: teknologi (material, mekanika, elektronika, informatika, dll.); pola konsumsi dan produksi (manajemen produksi, marketing, perlindungan hukum, dll.); lingkungan binaan (ecology, urban development, dll.) dan studi kebudayaan (material culture, lifestyle, dll.)
Dalam upaya pemecahan suatu masalah, bidang ilmu Desain Produk melakukan pendekatan pada aspek-aspek interdisiplin yang meliputi: estetika, sosial, teknik, manajemen, lingkungan, dan sains. Aspek-aspek ini merupakan unsur sinergis yang menjadi dasar terbentuknya epistemologi Desain Produk pada paruh kedua tahun 1990-an. Berbagai aspek tersebut akan mengalami perkembangan dan percepatan secara terus menerus seiring dengan berjalannya waktu, sehingga apa yang dirancangnya kemudianpun harus dapat mencerminkan semangat dari zamannya (zeitgeist)
3. Prospek Kerja
PSDP bertujuan agar kelak lulusannya memiliki pengetahuan, keterampilan, etika, dan wawasan luas yang berkaitan dengan dunia desain produk khususnya, mampu bekerja secara interdisipliner dengan bidang keilmuan terkait lainnya, untuk itu terdapat tiga bidang utama yang pada umumnya dapat dilakukan oleh seorang lulusan PSDP, yaitu:
· Industrial/Product Designer, yaitu desainer yang bekerja di industri berskala pabrikan/manufaktur;
·Entrepreneurial Product Designer, yaitu desainer yang memiliki biro/konsultan desain produk atau desainer yang sekaligus menjadi industriawan/wirausahawan yang memiliki studio/workshop yang memproduksi sendiri hasil desainnya; dan atau
·Product Design Researcher, yaitu peneliti, ilmuwan desain produk, dan atau pendidik, yang dapat bekerja di instansi pendidikan dan atau lembaga penelitian-pengembangan.
Para alumni Desain Produk, terutama bekerja dan menjadi tenaga ahli di lingkungan industri manufaktur produk, lembaga pemerintah maupun swasta, biro/konsultan desain, pendidikan desain, dan wirausaha desain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar